Sibuya dan Kepentingan Yahudi di Indonesia

Posted: November 4, 2012 in Uncategorized

sudah menjadi rahasia umum bahwa kebanyakan dari pemimpin Indonesia belum
mampu bahkan gagal menunjukan keberpihakan kepada rakyat kecil.

SBY adalah seorang jenderal bintang tiga Angkatan Darat. Lelaki yang bertubuh
tegap dan nampak gagah ini mengatakan,
“I Love the United States, With all its faults. I consider it my second country”,
bila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia kurang lebih, “Saya mencintai Amerika dengan
segala kesalahannya. Saya anggap Amerika adalah negeri kedua saya”.

Ucapan semacam itu boleh jadi disampaikan untuk
memperoleh credit point dari Pemerintahan AS.
Dengan dukungan dari Pemerintah AS,
kemudian SBY mendirikan Partai Demokrat,
nama yang sama seperti Partai Demokrat di AS.
Ternyata strategi tersebut berhasil membawa SBY menjadi Presiden Indonesia.

Pernyataan demi pernyataan semacam ini dapat diduga untuk menarik dukungan kaum Yahudi,
sehingga bila dihubungkan dengan pernyataan SBY merupakan permohonan restu dukungan kepada Pemerintahan AS,
sedangkan Obama meminta dukungan lobi Yahudi AS. Menurut Eggi Sudjana, penulis buku
“SBY Antek Yahudi-AS?; Suatu Kondisi Menuju Revolusi”,
ucapan SBY tersebut sebagai wujud penghambaan kepada dan untuk kepentingan AS dan sekutunya di Indonesia.
Eggi dalam bukunya juga menyatakan bahwa sejak zaman Soeharto lengser,
tidak ada calon presiden yang memberikan pernyataan itu, kecuali SBY.

Meskipun Obama dan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) diduga sama-sama antek Yahudi AS
indikasi SBY sebagai antek Yahudi-AS.
Misalnya saja dalam Kabinet Indonesia Bersatu I,
terdapat sosok seperti Sri Mulyani Indrawati,
Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas)—
kemudian menjadi Menteri Keuangan dan kini menjadi Tenaga Kerja Wanita (TKW) Indonesia termahal,
karena menjadi direksi Bank Dunia. Kemudian ada Marie Elka Pangestu (Menteri Perdagangan),
Andung Nitimiharja (Menteri Perindustrian), Jusuf Anwar (Menteri Keuangan),
Purnomo Yusgiantoro (Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral) yang di mata Baswir,
mereka tergolong penganut neolib yang gandrung terhadap ekonomi pasar.
Mereka rata-rata pernah bekerja atau terlibat dalam lembaga-lembaga unilateral sponsor utama neoliberalisme,
seperti IMF, Bank Dunia, dan Bank Pembangunan Asia (ADB).

seperti Soeharto dan SBY dianggap Amerika sebagai good boy,
karena mudah didikte dan diatur, maka mereka berdua disebut sebagai budak imperialisme Amerika”.

SBY Antek Yahudi-AS? juga membongkar makar lima perusahaan tambang raksasa milik Yahudi AS
yang beroperasi di Indonesia, yakni Freeport McMoran, Exxonmobile,
Chevron, Conoco Philips, dan Newmont.
Bahkan pada 2008,
kebutuhan energi minyak pantai bagian barat wilayah Amerika Serikat dipasok langsung dari kilang Tangguh di Papua”.

keberadaan Naval Medical Research Unit No. 2 (NAMRU 2) yang disinyalir menjadi sarang intelijen asing.
Hal ini membuktikan sekali lagi betapa terangnya keberpihakan SBY kepada Yahudi AS.
Atau hal ini menjadi indikasi nyata bahwa SBY memang bagian dari jaringan Yahudi AS itu.

Di bagian lain, Eggi juga menyatakan bahwa pemerintahan SBY terkenal pengecut terhadap tekanan Yahudi AS.
Dia tidak berani untuk melakukan nasionalisasi
perusahaan-prusahaan multi nasional (MNC) dan transnasional (TNC) milik Yahudi AS dan Inggris
yang beroperasi di Indonesia.

SBY dinilainya serupa dengan pemerintahan Soeharto, tidak berani membersihkan pengaruh Yahudi AS di Indonesia.
Bahkan untuk melakukan kontrak ulang untuk memberikan laba yang lebih besar
kepada Indonesia tidak pernah dilakukan oleh SBY.

SBY malah lebih cenderung untuk menjaga dan melindungi kepentingan Yahudi AS di Indonesia.
Kedekatan hubungan SBY dengan AS memang menimbulkan tanda tanya besar.
Tampaknya hubungan dirinya dengan AS temasuk dalam hal ini Yahudi AS tidak hanya bersifat ekonomi politik,
tetpi juga sudah berdimensi emosional.

Pada masa pemerintahan SBY ini,
cengkraman AS terhadap Indonesia semakin dalam dengan ditandatanganinya Comperhensive Partnership Agreement
pada 17 September 2010 yang meliputi kerjasama politik dan kemanan,
kerjasama ekonomi dan pembangunan, dan kerjasama dalam sosial-budaya,
ilmu pengetahuan, pendidikan, dan hal-hal teknologi.

kaum Zionis Yahudi AS lebih menyukai kubu SBY-Boediono yang lebih liberal pemikirannya (berkiblat ke Amerika).
Dalam pilpres 2009 dimenangkan kembali oleh SBY,
artinya bahwa kekuatan lobi Yahudi AS tetap mempertahankan supremasi TNI AD di Indonesia dengan tujuan
untuk mempertahankan kekuasaan konspirasi Barat di Indonesia.

Komentar ditutup.