Theosofi Dan Ideologi Pancasila

Posted: Desember 23, 2012 in Uncategorized

ANDA BUTUH KEBENARAN MARI BERSAMA SAYA KUPAS TUNTAS

sebelumnya kita telah mengerti bagaimana tujuan ajaran theosofi itu bermaksud untuk mencampuradukkan ajaran semua agama di dunia agar setelah agama-agama itu saling bertarung mereka menjadi lemah dan agama Yahudi itu sendirilah yang menang.

Melalui doktrin ‘tidak ada agama yang paling tinggi selain agama kebenaran’ yang dinamakan kemanusiaan universal, maka theosofi diterima dan dibenarkan oleh pengikutnya. bahkan didalam faham ideologi agama maka berkembanglah paham yang dinamakan pluralisme dimana mereka menjadi ragu dengan agama mereka sendiri, namun justru memasukkan paham-paham agama asing dalam masyarakat mereka sehingga mereka akhirnya justru ragu dengan keyakinan mereka sendiri. Tokoh-tokoh seperti Nurcholish Madjid dan teman-temannya tak sadar telah termakan dengan pengaruh theosofi ini.

Theosofi dan Boedi Oetomo

Tak cukup Nurcholish, di masa kemerdekaan sendiri, Ia menyusup dalam paham Boedi Oetomo, organisasi modern pertama yang paling getol menyeru nasionalisme kebangsaan. Boedi Oetomo adalah organisasi yang kental dengan nilai-nilai kebatinan. Para aktivisnya mengaku ingin menyatukan antara kultur dan tradisi jawa dengan pendidikan barat. BO Ingin memadukan antara modernisasi Barat dan misris Timur. Ki Wiropoestoko anggota BO Surakarta mengatakan, “Berdirinya Boedi Oetomo semata-mata merupakan hasil elit jawa yang telah memperoleh pendidikan barat.

Penggagas organisasi BO Dr Wahidin Sudirohusodo adalah anggota theosofi sebuah perkumpulan kebatinan yang berlandaskan kabilah Yahudi yang didirikan oleh Helena Petrovna Blavatsky.  Penulis buku Api Sejarah Ahmad Mansur Suryanegara mengatakan BO bukan sebagai organisasi kejawen yang anti islam daripada yang menyerukan nasionalisme. Sayangnya Ahmad Mansur tak menyebutkan hubungan antara BO dengan Theosofi maupun Freemasonry.

Theosofi dan Pancasila

Dasa negara kita, pansila dengan kelima silanya sendiri tak lepas dari pengaruh theosofi. Di Wikipedia disebutkan bahwa Muhammad Yamin lah peletak dasar kelima sila itu yang dirumuskannya dalam pidato tanggal 29 Mei 1945, sedangkan Soekarno menegaskannya kembali pada pidatonya tanggal 1 Juni 1945 yang sampai sekarang diperingati sebagai hari lahirnya pancasila itu.

Lebih lanjut Muhammad Yamin mengatakan kalau pancasila ini berasal dari akar sejarah, peradaban, agama dan ketatanegaraan yang telah lama berkembang di Indonesia. Adapun Soekarno berpidato menyambut rumusan ideologi negaranya ini sebagai berikut: “ Sekarang banyaknya prinsip: kebangsaan, internasionalisme, mufakat, kesejahteraan, dan ketuhanan, lima bilangannya. Namanya bukan Panca Dharma, tetapi saya namakan ini dengan petunjuk seorang teman kita ahli bahasa – namanya ialah Pancasila. Sila artinya azas atau dasar, dan diatas kelima dasar itulah kita mendirikan negara Indonesia, kekal dan abadi.

Padahal faktanya Muhammad Yamin dan Soepomo adalah dua tokoh Nasional yang bersama2 Moh.Hatta mendapat beasiswa dari organisasi Freemasonry untuk bersekolah di Belanda. Seadangkan Soekarno, atas pengakuannya sendiri dalam bukunya “Dibawah Bendera Revolusi” bahwa sejak muda dia telah terpengaruh oleh faham Theosofi yang juga dianut oleh ayahnya , Soekemi.

Sebuah buku yang ditulis oleh Iskandar P. Nugraha berjudul Mengikis Batas Timur dan Barat: Gerakan Theosofi dan Nasionalisme Indonesia (2001) , memberikan gambaran besarnya pengaruh gerakan Theosofi pada tokoh-tokoh nasional di Indonesia. Misalnya, orang tua Soekarno (R. Soekemi) ternyata anggota Theosofi. Muhammad Hatta juga mendapat beasiswa dari Ir. Fournier dan van Leeuwen, anggota Theosofi. Tokoh-tokoh lain yang menjadi anggota atau dekat sekali hubungannya dengan Theosofi adalah Moh. Yamin, Abu Hanifah, Radjiman Widijodiningrat (aktivis Theosofi), Tjipto Mangoenkoesoemo, Douwes Dekker, Armijn Pane, Sanoesi Pane, RA Kartini dan sebagainya.

Theosofi dan Sumpah Pemuda

Dua tahun sebelum sumpah pemuda dikumandangkan Pemuda Theosofi (Jong Theosofen) dan Pemuda Freemasonry (Jong Vrijmetselarij) aktif mengadakan kegiatan kepemudaan, namun hanya Gerakan Pemuda Islam (Jong Islamieten Bond) yang menolaknya karena mengetahui bahwa aksi ini didanai oleh kaum Freemasonry. Untuk itulah mereka menandinginya dengan menerbitkan bulten Her Licht (An Nur atau Cahaya) yang bermaksud untuk membungkam tipu daya mereka.

Sebab mereka tahu orang-orang seperti Tabrani, Muhammad Yamin ini telah berkiblat pada theosofi. Pada akhirnya dengan kegigihan orang-orangnya Sumpah Pemuda ini dikumandangkan yang bertujuan untuk memperkenalkan theosofi pada para pemuda, kedua untuk memperkuat perhimpunan theosofi sendiri, sedangkan yang ketiga adalah untuk mengumandangkan persaudaraan universal, tanpa memandang agama, ras, bangsa dan golongan. Maka sebagaimana kita lihat ikrar sumpah pemuda setiap tanggal 28 Oktober itu selalu kita peringati itu seolah-olah mengajak pada persatuan bangsa, bahasa dan tanah air, tetapi lebih dari itu adalah ajakan pada persaudaraan universal, sangat khas theosofi. []

Komentar ditutup.